Beragama dengan Nyaman
Suatu hari salah seorang yang sangat dikagumi seluruh
dunia terutama bagian benua Afrika yang di sebut sebagai bapak revolusioner antiapartheid
dan politisi yang menjabat sebagai Presiden sejak 1994-1999 yaitu Bapak Nelson
Mandela. Beliau pernah dijatuhkan hukuman penjara selama 27 tahun dan bebas
pada tahun 1990. Begitu tersiksanya beliau pada saat itu dengan ruang yang
sempit, bau, tak ada meja kursi, dan konon makanan yang disajikan seringkali
basi. Dia bertanya, “Apakah Mandela yang kemudian hadir sebagai Bapak Presiden
Afrika Selatan dan begitu dikagumi dunia tidak merasa geram dan dendam terhadap
musuh-musuh politiknya dimasa lalu? Mandela pun berkata “Kalau aku biarkan dan
kupelihara terus kekesalan dan kebencianku kepada para penindas itu, hanya akan
masih terus menyandera diri dan jiwaku. Karena itu aku buang semua kebencian
itu sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka.
Pesan dan pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita
singkat nelson Mandela diatas? Disini saya mencoba menarik sebuah pemahaman dan
memperoleh pelajaran bahwasanya kebahagiaan dan kemerdekaan ada kolerasi yang
sangat erat dengan sikap batin seseorang. Akankah memelihara luka derita yang
justru kian bertambah ketika diingat-ingat? Akankah mengurangi dan
melupakannya, lalu diganti dengan cara pandang baru terhadap kehidupan? Semua ini
kembali pada pribadi masing-masing orang. Jika kita merasa benar, tak perlu
takut akan kritik, kecaman, dan fitnah orang, kebenaran hanya Tuhan yang tahu.
Lebih dari itu, mari kita jaga hati dan
lisan agar tidak mudah menyakiti orang lain karena kita sendiri yang akan rugi.
Kisah-kisah kebajikan hidup seperti di atas mudah sekali
kita temukan di sekeliling kita. Kalau saja kita mau membuka hati dan telinga,
sehingga setiap hari pasti akan mendapatkan pembelajaran hidup yang bermakna.
Agama ibarat Pakaian
Saya mencoba
menganalogikan fungsi utama pakaian dengan agama agar anda lebih paham arti
sebuah kenyamanan beragama. Apa dan mengapa pakaian? Mari kita renungkan dan
bahas sejenak. Apa saja yang menjadi pertimbangan ketika mengenakan pakaian? Apalah gunanya sebuah Pakaian jika tak mampu menutupi dan
mempercantik si-pemakainya?. Apalah gunanya mengakui kalau
Baju/Busana/Pakaian kita lebih cantik atau bahkan lebih mahal dari yang lainnya
bila si-pemilik Pakaian tersebut tidak pernah menyukainya?, seperti itu jugalah
sebenarnya Agama yang kita anut. Semua orang bisa merasa menerima dengan baik
dan benar Agama yang dianutnya, setiap kita pasti membela bahkan mempertahankan
dan meyakini Agama yang kita peluk sejak dari lahirnya atau setelah melalui proses.
Jika Agama di analogikan atau di ibaratkan
sebuah Pakaian maka: Coba fahami bahwa setiap Pakaian pasti memiliki asal-usul,
memiliki trademark. Jika Pakaian tersebut tidak jelas trademarknya maka apakah
masih bisa dikatakan Pakaian?, jawabanya tentu bisa, namun apakah asli?
sebahagian berkata tak penting keasliannya, toh bisa digunakan. Ketika kedua
jawaban ini saja untuk menentukan keberadaan sebuah Pakaian maka tidak ada
persoalan.
Namun ketika diuji kualitas dan kuantitasnya,
banyak Pakaian tidak lulus uji, tidak terakui, tidak bisa menembus pasar,
disebabkan kalah bersaing dengan merek-merek yang sudah terkenal mutu dan
keasliannya. Seperti ini juga menilai Agama yang kita anut jika dianalogikan
sebagai Pakaian. Analogi lain ketika Agama dikatakan Jalan/Cara maka: Banyak
jalan yang bisa dilalui, namun apakah jalan/cara tersebut sudah jelas arahnya?.
Syarat untuk bisa dikatakan Jalan/Cara tentu harus bisa mengarahkan,menunjuki
dan membimbing, jika jalan tak jelas arah atau mentok maka bukan jalan namanya,
sebab tak mampu memberikan solusi, tak bisa mengarahkan ke-arah tujuan yang
dimaksud. Kedua analogi diatas perlu untuk dipikirkan, perlu untuk dicermati
dan perlu untuk diriset sebelum Pakaian atau Jalan tersebut kita gunakan dan
kita lalui dalam kehidupan yang sementara, yang fana, nisbi dan fatamorgana
ini.
Agama ibarat Jalan
Jika Agama di ibaratkan sebuah pakaian, maka
pakailah! Sehingga mampu menutupi, melindungi dan mempercantik diri. Jika Agama
di-analogikan sebagai jalan, maka jalanilah! hingga sampai ketujuan yang
dimaksud, tidak perlu berdebat mempertahankan Agama siapa yang paling benar,
yang paling baik. Lebih luas lagi Agama adalah sebuah system tentu harus mampu
untuk menata, mengatur manusia hingga apik dan serasi. Jika saja Agama tersebut
tidak mampu untuk mengatur dan menata manusia hingga sampai kepada Sang
Pencipta yang sesungguhnya maka, Agama tersebut tidak ada bedanya dengan adat
istiadat setempat, tidak ada bedanya dengan aturan yang dibuat disetiap Negara.
Sementara Agama itu harus mengungguli system, aturan dan undang-udang manapun,
jika memang Agama tersebut berawal/berasal dari Tuhan. Agama harus diatas
segala peraturan buatan manusia, harus bersifat mutlak, tanpa unsur paksaan.
Shared
postingan ini jika ini merasa bermanfaat..
Kritik
dan saran para penikmat saya sangat hargai untuk perbaikan tulisan-tulisan saya
berikutnya. Silahkan komentar dibawah ini.. Sekian dan terima kasih..
Link
email: muhzulqamar@gmail.com
Facebook
: Zulqamar Muhammad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar