Satu bumi beragam Budaya
Kebudayaan sebagai hasil budi manusia, dalam
hal berbagai bentuk dan menifestasinya, dikenal sepanjang sejarah sebagai milik
manusia yang tidak kaku, melainkan selalu berkembang dan berubah dan membina
manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan
tantangan zaman tradisional untuk memasuki zaman modern.
Manusia sebagai mahluk berakal dan berbudaya
selalu berupaya untuk melakukan perubahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan
dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus
maju, ketika alamlah yang mengendalikan manusia dengan sifatnya yang tidak
iddle curiousity (rasa keinginantahuan yang terus berkembang) makin lama daya
rasa, cipta dan karsanya telah didapat mengubah alam menjadi sesuatu yang
berguna, maka alamlah yang dikendalikan oleh manusia.
Kebudayaan merupakan karya manusia yang
mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesastraan, agama, penafsiran dan
penilaian mengenai lingkungan.
Hal yang
perlu diingat bahwasanya jangan sampai terjadi penetrasi kebudayaan dibangsa
tanah tercinta. Mengapa demikian ? Karena perlahan lahan namun pasti akan
meruntuhkan budaya-budaya diIndonesia. Saya akan menjelaskan mengenai penetrasi
kebudayaan agar anda lebih memahami dan menjaga kebudayaan diIndonesia.
Yang
dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan
ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
·
Penetrasi damai (penetration pasifique)
·
Penetrasi kekerasan (penetration violante)
Sebuah kebudayaan
besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau
biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit
perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya.
Munculnya
sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan,pandangan politik.
Ada beberapa
cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan
yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung
pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas,
seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan
keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.
- Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
- Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
- Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
- Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.
Seiring dengan perkembangan zaman nilai-nilai
budaya dalam masyarakat Indonesia terus berubah begitu juga dengan perkembangan
film di Indonesia. Budaya kita semakin hari semakin tidak jelas. Mengapa?
Karena film dan budaya bersifat timbal-balik. Budaya mempengaruhi film dan
sebaliknya film juga dapat mempengaruhi budaya.
Film merupakan cerminan masyarakat karena di
satu pihak film itu sendiri sebagai media. Budaya yang ada pada masyarakat
disajikan melalui film yang dibuat. Akan tetapi budaya negatif bangsa Indonesia
tak lepas dipengaruhi oleh film. Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap film
yang mengangkat mitos dan horor, tindakan kekerasan, serta gaya hidup hedonisme
karena pengaruh oleh film yang ditonton.
Sayangnya pembentukan budaya di Indonesia
seperti cinta tanah air hanya sebagai slogan atau semboyan. Ironisnya
masyarakat kita lebih bangga terhadap hasil karya bangsa asing. Faktanya bahwa
masyarakat cenderung menggemari film asing, dibanding film bangsa sendiri.
Masalah ini terletak pada film yang disajikan di Indonesia sering
mempertontonkan budaya yang tidak mendidik.
Kita sebagai generasi bangsa harus bangga
dengan nilai pendidikan dan budaya yang dimiliki, potensi pulau yang ada di Indonesia
tidak kalah dengan pulau-pulau di Negara tetangga. Pemerintah Indonesia tidak
perlu menunggu lama lagi untuk memulai karya seni anak daerah yang selama ini
kurang diperhatikan keberadaan dan potensi mereka. Bangga dengan budaya sendiri
bagian dari Bela Negara…!
Shared
postingan ini jika ini merasa bermanfaat..
Kritik
dan saran para penikmat saya sangat hargai untuk perbaikan tulisan-tulisan saya
berikutnya. Silahkan komentar dibawah ini.. Sekian dan terima kasih..
Link
email: muhzulqamar@gmail.com
Facebook
: Zulqamar Muhammad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar