Minggu, 30 Juli 2017

Kerangka Teori Tindakan


Satu bumi beragam Budaya

Kebudayaan sebagai hasil budi manusia, dalam hal berbagai bentuk dan menifestasinya, dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak kaku, melainkan selalu berkembang dan berubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman tradisional untuk memasuki zaman modern.
Manusia sebagai mahluk berakal dan berbudaya selalu berupaya untuk melakukan perubahan. Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan kualitas hidup yang semakin terus maju, ketika alamlah yang mengendalikan manusia dengan sifatnya yang tidak iddle curiousity (rasa keinginantahuan yang terus berkembang) makin lama daya rasa, cipta dan karsanya telah didapat mengubah alam menjadi sesuatu yang berguna, maka alamlah yang dikendalikan oleh manusia.
Kebudayaan merupakan karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesastraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.

            Hal yang perlu diingat bahwasanya jangan sampai terjadi penetrasi kebudayaan dibangsa tanah tercinta. Mengapa demikian ? Karena perlahan lahan namun pasti akan meruntuhkan budaya-budaya diIndonesia. Saya akan menjelaskan mengenai penetrasi kebudayaan agar anda lebih memahami dan menjaga kebudayaan diIndonesia.


Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
·         Penetrasi damai (penetration pasifique)
·         Penetrasi kekerasan (penetration violante)

Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya.
Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan,pandangan politik.

Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.

  • Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
  • Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
  • Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
  • Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.

Seiring dengan perkembangan zaman nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia terus berubah begitu juga dengan perkembangan film di Indonesia. Budaya kita semakin hari semakin tidak jelas. Mengapa? Karena film dan budaya bersifat timbal-balik. Budaya mempengaruhi film dan sebaliknya film juga dapat mempengaruhi budaya.
Film merupakan cerminan masyarakat karena di satu pihak film itu sendiri sebagai media. Budaya yang ada pada masyarakat disajikan melalui film yang dibuat. Akan tetapi budaya negatif bangsa Indonesia tak lepas dipengaruhi oleh film. Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap film yang mengangkat mitos dan horor, tindakan kekerasan, serta gaya hidup hedonisme karena pengaruh oleh film yang ditonton.

Sayangnya pembentukan budaya di Indonesia seperti cinta tanah air hanya sebagai slogan atau semboyan. Ironisnya masyarakat kita lebih bangga terhadap hasil karya bangsa asing. Faktanya bahwa masyarakat cenderung menggemari film asing, dibanding film bangsa sendiri. Masalah ini terletak pada film yang disajikan di Indonesia sering mempertontonkan budaya yang tidak mendidik.

Kita sebagai generasi bangsa harus bangga dengan nilai pendidikan dan budaya yang dimiliki, potensi pulau yang ada di Indonesia tidak kalah dengan pulau-pulau di Negara tetangga. Pemerintah Indonesia tidak perlu menunggu lama lagi untuk memulai karya seni anak daerah yang selama ini kurang diperhatikan keberadaan dan potensi mereka. Bangga dengan budaya sendiri bagian dari Bela Negara…!


Shared postingan ini jika ini merasa bermanfaat..
Kritik dan saran para penikmat saya sangat hargai untuk perbaikan tulisan-tulisan saya berikutnya. Silahkan komentar dibawah ini.. Sekian dan terima kasih..

Link email: muhzulqamar@gmail.com

Facebook : Zulqamar Muhammad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar